<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Fiqih 4 Imam Mazhab</title>
	<atom:link href="http://serbafiqih.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://serbafiqih.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 29 Jun 2007 14:06:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='serbafiqih.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Fiqih 4 Imam Mazhab</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://serbafiqih.wordpress.com/osd.xml" title="Fiqih 4 Imam Mazhab" />
	<atom:link rel='hub' href='http://serbafiqih.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Syarat-Syarat Jual Beli Dan Hukumnya</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/28/syarat-syarat-jual-beli-dan-hukumnya/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/28/syarat-syarat-jual-beli-dan-hukumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jun 2007 05:31:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/28/syarat-syarat-jual-beli-dan-hukumnya/</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=35&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=35&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/28/syarat-syarat-jual-beli-dan-hukumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Saham dan Obligasi</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/jual-beli-saham-dan-obligasi/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/jual-beli-saham-dan-obligasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 15:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/jual-beli-saham-dan-obligasi/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Bukan perkara yang diragukan lagi bahwa jual beli saham dan obligasi banyak sekali terjadi dalam praktek muamalah manusia hari ini, bahkan merupakan amalan yang banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan bisnis. Karena itu maka kita akan bawakan dalam bahasan kita mulai dari definisi keduanya, perbedaan saham dan obligasi serta hukum jual beli keduanya. Saham yaitu bagian dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=34&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin:0;" class="MsoNormal" align="justify"><span><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Bukan perkara yang diragukan lagi bahwa jual beli saham dan obligasi banyak </span><span>sekali terjadi dalam praktek muamalah manusia hari ini, bahkan merupakan </span><span>amalan yang banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan bisnis. Karena </span><span>itu maka kita akan bawakan dalam bahasan kita mulai dari definisi keduanya, perbedaan </span><span>saham dan obligasi serta hukum jual beli keduanya.</span><span id="more-34"></span></p>
<p align="justify"><strong><em>Saham</em></strong> yaitu bagian dari modal pokok perusahaan, baik perusahaan perdagangan, property, ataupun perusahaan-perusahaan industri, Saham tersebut bisa berasal  dari pemilik perusahaan ataupun pihak lain yang mengadakan perjanjian kerjasama.  Setiap saham adalah komponen modal yang mempunyai nilai sama (sesuai dengan nilainya, pent).</p>
<p><strong><em>Obligasi</em></strong>  adalah Surat perjanjian (pengakuan hutang) dari bank, perusahaan dan sejenisnya  kepada pemegangnya dengan waktu pelunasan tertentu pula, pada umumnya sesuai  dengan bunga yang ditetapkan dalam akad peminjaman antara perusahaan ,lembaga pemerintahan, atau perorangan. Terkadang sebuah perusahaan membutuhkan sejumlah harta (pinjaman) untuk perluasan usahanya, yang dapat dilunasi dalam waktu yang panjang, sedangkan tidak ada yang dapat memberikan pinjamaan, maka akhirnya perusahaan itu menawarkan obligasi sejumlah yang dibutuhkan kepada publik untuk membelinya, dengan memberikan bunga tertentu dalam satu tahun. Pemilik obligasi mengambil bunga tersebut sampai waktu tertentu (jatuh tempo), kemudian dikembalikan hartanya kepadanya, dan terus belaku kebiasaan muamalah dengan obligasi ini, dan dijadikan sebagai ajang jual beli antar individu, layaknya barang-barang dagangan, maka pembawa obligasi menjualnya kepada yang lain, kemudian dijualnya lagi kepada yang lain, begitu seterusnya.</p>
<p><span><strong>Perbedaan Saham dan Obligasi<br />
</strong></span><span>Saham menggambarkan sebagian dari modal pokok sebuah perusahaan. Pemilik </span><span>saham dipandang sebagai pemilik sebagian asset dari perusahaan sesuai dengan </span><span>kadar saham yang dia miliki. Adapun obligasi dipandang sebagai hutang </span><span>perusahaan, maka perusahaan berhutang kepada pemilik obligasi tersebut.</p>
<p></span><span>Obligasi memiliki masa jatuh tempo untuk pelunsan hutang, adapun saham </span><span>tidak memiliki kecuali ketika perusahaan tersebut dinyatakan dilikuidasi.</p>
<p></span><span>Keuntungan ataupun kerugian pemilik saham tergantung dari prestasi </span><span>perusahaan tersebut, tidak ada batasan khusus bagi keuntungan perusahaan, </span><span>terkadang untung dengan keuntungan yang besar, dan terkadang rugi dengan </span><span>kerugian yang besar. Pemilik saham sama-sama mengambil bagian dalam untung </span><span>atau ruginya perusahaan. Terkadang mereka mendapatkan keuntungan yang besar </span><span>ketika perusahaan mendapatkan laba yang besar. Dan terkadang pula mereka rugi </span><span>ketika perusahaan itu jatuh. Maing-masing mereka menanggung bagian untung atau </span><span>rugi.</p>
<p></span><span>Adapun pemilik obligasi dia memiliki bunga tetap yang dijamin ketika </span><span>peminjaman, yang dapat dilihat dari surat obligasinya, bunga tersebut tidak </span><span>bertambah dan tidak berkurang. serta tudak menggambarkan adanya kerugian. </span><span>Apabila mereka misalnya meminjamkan (membeli obligasi) seharga 3 Junaih </span><span>(ukuran mata uang mesir) bagi setiap 100 junaih. Kemudian perusahaan itu </span><span>untung 10 junaih bagi setiap 100 junaih, maka mereka tidak akan mendapatkan </span><span>lebih dari bunga yang telah ditetapkan baginya. Sedangkan bagi pemilik saham </span><span>mereka akan mendapatkan 10 junaih dari setiap 100 junaih. Dan begitupun </span><span>sebaliknya jika perusahaan itu jatuh dan rugi maka para pemilik obligasi akan </span><span>tetap mendapatkan bunga yang telah ditetapkan baginya, disaat para pemikik </span><span>saham tidak mendapatkan sedikitpun kuntungan bahkan mereka menanggung beban </span><span>kerugian.</p>
<p></span><span>Ketika perusahaan dilikuidasi, maka kedudukan tertinggi ada pada pemegang </span><span>obligasi karena dia merepresentasikan hutang perusahaan. Pemegang saham tidak </span><span>memiliki hak atas harta perusahaan kecuali setelah ditunaikan semua hutang </span><span>perusahaan. Bagi pemegang obligasi berhak untuk menuntut pengumuman kerugian </span><span>perusahaan ketika perusahaan tersebut tidak bisa menunaikan kewajibannya </span><span>(pailit).</p>
<p><strong><span>Hukum Jual Beli Saham</span><span> ada dua macam:</span></strong></span></p>
<ul>
<li>
<p align="justify"><span><span>Saham pada perusahaan yang haram atau dari penghasilannya haram seperti dari bank-</span><span>bank yang bermuamalah dengan riba atau perusahaan-perusahaan judi atau tempat-</span><span>tempat keji, maka jual beli saham ini adalah haram, karena Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>jika </span><span>mengharamkan sesuatu, mengharamkan pula harganya, disamping itu dengan membeli </span><span>sahamnya berarti dia telah melakukan kerjasama dalam perbuatan dosa, Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em></span><span> berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Dan janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan </em></span><span><em>permusuhan&#8221; </em>(QS: Al Maidah: 2)</span></span></p>
</li>
<li>
<p align="justify"><span><span>Saham pada perusahaan yang mubah seperti perusahaan-perusahaan dagang yang </span><span>mubah atau perusahaan industri yang mubah, maka yang seperti ini dibolehkan </span><span>menanam saham padanya, bekerja sama dengannya serta jual beli sahamnya, jika </span><span>memang perusahaan tersebut telah diketahui dan dikenal serta tidak ada </span><span>penipuan dan ketidaktentuan yang berlebihan padanya, karena saham itu adalah </span><span>sebagian dari modal yang akan kembali kepada pemodalnya dengan keuntungan dari </span><span>hasil perniagaan atau perindustrian, maka saham seperti ini adalah halal tanpa </span><span>ada keraguan padanya.</span></span></p>
</li>
</ul>
<p align="justify"><span><span><span><strong>Hukum Jual Beli Obligasi</p>
<p></strong></span><span>Telah jelas dari keterangan yang lalu bahwasanya obligasi hakekatnya adalah </span><span>peminjaman dengan membuahkan penghasilan atau bunga, karena obligasi adalah </span><span>hutang perusahaan kepada pemilik obligasi yang berhak sebagaimana perjanjian </span><span>untuk mendapatkan hasil tertentu dari pinjaman itu secara tahunan baik </span><span>perusahaan itu untung atau rugi, maka dengan demikian ia masuk dalam lingkup </span><span>transaksi riba, oleh sebab itu terbitnya obligasi sejak awalnya adalah </span><span>perbuatan yang tidak sesuai dengan syari&#8217;at, maka jual belinya tidak boleh </span><span>secara syari&#8217;at dan bagi pemilik obligasi ini tidak boleh menjualnya.</p>
<p></span><span><strong>Tapi bagaimana kalau seandainya obligasi itu berbentuk hutang yang sesuai </strong></span><span><strong>dengan syari&#8217;at (tidak berbunga-pent) apakah boleh menjualnya?</p>
<p></strong></span><span>Ini masuk dalam pembahasan menjual hutang dan itu dibolehkan jika menjualya </span><span>kepada orang yang berhutang dengan syarat harus menerima gantinya di majlis </span><span>(jual-beli) itu, dengan dasar hadits Ibnu Umar: Dulu saya menjual Unta di </span><span>Baqi&#8217; dengan uang dinar (uang dari emas), kemudian kami mengambil gantinya </span><span>berupa dirham (uang dari perak), kemudian aku bertanya kepada Rasululloh </span><span><em>shallallahu&#8217;alaihi wa sallam</em> maka beliau menjawab, yang artinya:<em> &#8220;Tidak mengapa jika kalian </em></span><span><em>berpisah dalam keadaan tidak ada sesuatu diantara keduanya&#8221;</em> (HR: Abu Dawud, </span><span>Nailul Authar 5/157)</p>
<p></span><span>Adapun jika dijual kepada selain yang berhutang, maka pendapat yang kuat juga </span><span>dibolehkan jika dijual dengan selain uang seperti beras, gandum atau mobil. </span><span>Adapun jika dijual dengan uang maka tidak sah karena hakekatnya adalah menjual </span><span>uang secara kontan dengan uang yang kredit padahal syarat sahnya penjualan </span><span>seperti itu adalah harus saling menerima (taqabuth) uang pada satu majlis jika </span><span>jenis uangnya atau mata uangnya berbeda dan jika satu mata uang maka ditambah </span><span>syarat yang lain yaitu harus sama nilainya, maka obligasi itu tidak boleh </span><span>dijual dengan harga yang lebih rendah, jika dengan harga yang berbeda maka </span><span>terjatuh dalam riba fadl dan nasi&#8217;ah.</p>
<p></span><span>(Sumber Rujukan: Ar Riba Wal Mu&#8217;amalat Al Mashrafiyah, Karya Syaikh Dr. Umar bin </span><span>Abdul Aziz Al Mutrak, hal 369-375)</span></span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=34&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/jual-beli-saham-dan-obligasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bejana-Bejana Dari Emas, Perak dan Kulit &#8230;</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/bejana-bejana-dari-emas-perak-dan-kulit/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/bejana-bejana-dari-emas-perak-dan-kulit/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 09:01:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/bejana-bejana-dari-emas-perak-dan-kulit/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Aaniyah adalah wadah-wadahan atau bejana yang di dalamnya air dan benda lain  dapat disimpan, baik terbuat dari besi, kayu, kulit ataupun yang lainnya. Dan hukum asalnya adalah boleh, maka diperbolehkan mempergunakan dan memakai semua bejana yang suci kecuali dua hal&#8230;.. Pertama: Bejana Emas dan Perak Termasuk bejana yang mengandung unsur emas atau perak, baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=33&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment --><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a target="_blank" href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span></span>Aaniyah adalah wadah-wadahan atau bejana yang di dalamnya air dan benda lain  dapat disimpan, baik terbuat dari besi, kayu, kulit ataupun yang lainnya. Dan hukum asalnya adalah boleh, maka diperbolehkan mempergunakan dan memakai semua bejana yang suci kecuali dua hal&#8230;..<span id="more-33"></span></p>
<p align="justify"><span><strong>Pertama: Bejana Emas dan Perak<br />
</strong><br />
Termasuk</span> bejana yang mengandung unsur emas atau perak, baik berupa polesan, hiasan, ataupun bentuk percampuran emas dan perak pada bejana, kecuali sedikit tambalan perak pada bejana di saat dibutuhkan untuk memperbaikinya.</p>
<p><strong>Dalil pengharaman bejana emas dan perak</strong> adalah sabda Nabi shallallahu <em>&#8216;alaihi wa sallam</em> yang artinya: <em>&#8220;Janganlah kalian minum  di dalam bejana emas dan perak, dan janganlah kalian makan pada piring-piringnya, karena sesungguhnya hal itu adalah bagi mereka (orang-orang kafir) di dunia dan bagi kita di akhirat&#8221;</em> (diriwayatkan oleh Al Jama’ah) .Dan sabdanya shallallahu <em>&#8216;alaihi wa sallam</em> yang artinya:<em> &#8220;Orang yang minum pada bejana perak, hanyasannya dia itu mengucurkan pada perutnya api neraka&#8221;</em> (Muttafaq ‘Alaih).</p>
<p>Sedangkan larangan dari sesuatu mencakupnya baik dalam keadaan murni ataupun campuran, sehingga haramlah bejana yang dipoles atau dihiasi dengan emas  atau perak atau bejana yang ada mengandung campuran emas dan perak, selain sedikit tambalan perak sebagaimana yang lalu, dengan dalil hadits Anas Ibnu Malik <em>radliyallahu &#8216;anhu</em> yang artinya:<em> &#8220;Bahwa pinggan milik Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam  retak, maka beliau menambalnya dengan perak&#8221;</em> (HR: Al Bukhari)</p>
<p>An Nawawiy <em>rahimahullah</em> berkata: Telah terjalin ijma akan haramnya makan dan minum padanya, dan seluruh macam penggunaan  semakna dengan makan dan minum dengan ijma..Haramnya pemakaian dan penggunaan mencakup laki-laki dan perempuan berdasarkan umumnya hadits-hadits itu, dan tidak adanya dalil yang mengkhususkan, dan hanyasannya perhiasan dibolehkan bagi wanita karena kebutuhan mereka untuk berhias bagi suaminya. Dan dibolehkan bejana-bejana orang-orang kafir yang mereka pergunakan, selama tidak diketahui bahwa itu najis, dan bila diketahui adanya najis, maka harus dicuci terlebih dahulu kemudian dipakai setelah itu.</p>
<p><strong>Kedua: </strong><span><strong>Kulit bangkai, haram memakainya kecuali bila sudah disamak.<br />
</strong><br />
Para ulama berbeda pendapat tentang boleh tidaknya mempergunakannya setelah disamak, dan pendapat yang benar adalah boleh, ini adalah pendapat jumhur ulama, karena adanya hadits-hadits shahihah yang membolehkan pemakaiannya setelah disamak, dan karena sifat najisnya itu adalah thari’ah (datang mendadak), sehingga bisa hilang dengan samak, sebagaimana sabda Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>  yang artinya: <em>&#8220;Disucikan dengan air dan qaradh (pohon yang kesat,Pent)&#8221;</em> Dan sabdanya <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> yang artinya: <em>&#8220;Penyamakan kulit adalah pensuciannya&#8221;.</p>
<p></em>Dan dibolehkan pakaian-pakaian orang-orang kafir, bila tidak diketahui bahwa itu najis, karena hukum asalnya adalah suci, sehingga tidak hilang dengan keragu-raguan, dan dibolehkan kain-kain yang mereka tenun atau celup, karena Nabi <em>shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em>  dan para sahabatnya memakai pakaian yang ditenun dan dicelup oleh orang-orang kafir.</p>
<p></span><span>Wallahu ‘Alam.</span></p>
<p align="justify"><span><!--StartFragment --> <a href="http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=497&amp;Itemid=13" class="contentpagetitle">Bejana-Bejana Dari Emas, Perak dan Kulit &#8230;</a> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=33&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/bejana-bejana-dari-emas-perak-dan-kulit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Bersiwak</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/keutamaan-bersiwak/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/keutamaan-bersiwak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 08:58:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/keutamaan-bersiwak/</guid>
		<description><![CDATA[  MediaMuslim.Info &#8211; Termasuk sunnah yang paling sering dan yang paling senang dilakukan oleh Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah bersiwak. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah yang banyak baik bersifat keduniaan yaitu berupa kebersihan mulut, sehat dan putihnya gigi, menghilangkan bau mulut, dan lain-lain, maupun faedah-faedah yang bersifat akhirat, yaitu ittiba’ kepada Nabi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=32&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment --> </p>
<p align="justify"><span class="datasimp"><a target="_blank" href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span>Termasuk sunnah yang paling sering dan yang paling senang dilakukan oleh <em>Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> adalah bersiwak. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah yang banyak baik bersifat keduniaan yaitu berupa kebersihan mulut, sehat dan putihnya gigi, menghilangkan bau mulut, dan lain-lain, maupun faedah-faedah yang bersifat akhirat, yaitu ittiba’ kepada Nabi <em>Shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> dan mendapatkan keridhoan dari Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.<span id="more-32"></span></p>
<p align="justify">Sebagaimana sabda Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam, yang artinya:<em> “Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhoan bagi Rob”. </em>(HR: Ahmad, irwaul golil no 66 [shohih]). (Syarhul mumti’ 1/120 dan taisir ‘alam 1/62)</p>
<p>Oleh karena itu Rosululloh<em> Shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> begitu bersemangat melakukannya dan sangat ingin agar umatnya pun melakukan sebagaimana yang dia lakukan, hingga beliau bersabda, yang artinya: <em><span>“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu”</span>. </em>(HR: Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)</p>
<p>Dan yang artinya: <span><em>“Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”</em></span><em>.</em> (HR: Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)</p>
<p>Ibnu Daqiqil ‘Ied menjelaskan sebab sangat dianjurkannya bersiwak ketika akan sholat, beliau berkata: “Rahasianya yaitu bahwasanya kita diperintahkan agar dalam setiap keadaan ketika bertaqorrub kepada Alloh, kita senantiasa dalam keadaan yang sempurna dan dalam keadaan bersih untuk menampakkan mulianya ibadah”. Dikatakan bahwa perkara ini (bersiwak ketika akan sholat) berhubungan dengan malaikat karena mereka terganggu dengan bau yang tidak enak. Berkata Imam As-Shon’ani : “Dan tidaklah jauh (jika dikatakan) bahwasanya rahasianya adalah digabungkannya dua perkara yang telah disebutkan (di atas) sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir, yang artinya: <span><em>“Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah atau bawang bakung maka janganlah dia mendekati mesjid kami. Sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa-apa yang bani Adam tergaanggu dengannya”</em></span><em> </em>(Taisir ‘alam 1/63)</p>
<p>Dan ternyata Rosululloh<em> Shallallâhu ‘alaihi wasallam </em>tidak hanya bersiwak ketika akan sholat saja, bahkan beliau juga bersiwak dalam berbagai keadaan. Diantaranya ketika dia <strong>masuk kedalam rumah…</strong> Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata, yang artinya: <em>”Aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rosululloh jika dia memasuki rumahnya?” Beliau menjawab :”Bersiwak”. </em>(HR: Muslim, irwaul golil no 72)</p>
<p style="text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal">Atau ketika bangun malam…<br />
Dari Hudzaifah ibnul Yaman, dia berkata, yang artinya:<em> “Adalah Rosululloh jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak”.</em> (HR: Bukhori)</p>
<p>Bahkan dalam setiap keadaan pun boleh bagi kita untuk bersiwak. Sesuai dengan hadits di atas. Dalam hadits ini Rosululloh<em> Shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> memutlakkannya dan tidak mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu siwak boleh dilakukan setiap waktu (Syarhul mumti’ 1/120, fiqhul islami wa adillatuhu 1/300), sehingga tidak disyaratkan hanya bersiwak ketika mulut dalam keadaan kotor (Syarhul mumti’ 1/125).</p>
<p>Rosululloh <em>Shallallâhu ‘alaihi wasallam </em>sangat bersemangat ketika bersiwak, sehingga sampai keluar bunyi dari mulut beliau seakan-akan beliau muntah. Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata, yang artinya:<em> <span>&#8220;</span>Aku mendatangi Nabi<span> </span>Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan dia sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada lidahnya dan dia sambil berkata “Uh- uh”. Dan siwak berada pada mulutnya seakan-akan beliau muntah<span>&#8220;</span></em>. (HR: Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Dan yang lebih menunjukan akan besarnya perhatian beliau dengan siwak yaitu bahwasanya diakhir hayat beliau, beliau masih menyempatkan diri untuk bersiwak sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah, yang artinya: <em>Dari ‘Aisyah berkata: Abdurrohman bin Abu Bakar As-Sidik y menemui Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam dan Nabi Shallallâhu ‘alaihi wasallam bersandar di dadaku. Abdurrohman y membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak. Dan Rosululloh Shallallâhu ‘alaihi wasallam memandang siwak tersebut (dengan pandangan yang lama). Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan menggigitnya (untuk dibersihkan-pent) lalu aku membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada Rosululloh, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah pernah aku melihat Rosululloh bersiwak yang lebih baik dari itu. Dan setelah Rosululloh selesai dari bersiwak dia pun mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata :<span> </span></em></p>
<p align="center"><span><strong>فِي الرَّفِيْقِ الأَعْلَى</strong></span></p>
<p align="justify"><em>Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.</p>
<p></em>Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata, yang artinya: <em>&#8220;Aku melihat Rosululloh memandang siwak tersebut, maka akupun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata: ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?” Maka Rosululloh mengisyaratkan dengan kepalanya (mengangguk-pent) yaitu tanda setuju.</em>&#8220;<em> </em>(HR: Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu berkata sebagian ulama: “Telah sepakat para ulama bahwasanya bersiwak adalah sunnah muakkadah karena anjuran Rosululloh<em> Shallallâhu ‘alaihi wasallam</em> dan kesenantiasaan beliau melakukannya dan kecintaan beliau serta ajakan beliau kepada siwak tersebut.” (fiqhul islami wa adillatuhu 1/300)</p>
<p>(Sumber Rujukan: Syarhul Mumti’ ‘ala zadil mustaqni’ jilid 1, karya Syaikh Muhammad Utsaimin; Irwaul Golil jilid 1, karya Syaikh Al-Albani; Taisirul ‘Alam jilid 1, Karya Syaikh Ali Bassam; Fiqhul Islami wa adillatuhu jilid 1, karya Doktor Wahbah Az-Zuhaili)</p>
<p align="justify"><!--StartFragment --> <a href="http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=495" class="contentpagetitle">Keutamaan Bersiwak</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/32/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/32/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=32&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/keutamaan-bersiwak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Tentang Siwak</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/sekilas-tentang-siwak/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/sekilas-tentang-siwak/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jun 2007 08:52:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/sekilas-tentang-siwak/</guid>
		<description><![CDATA[  MediaMuslim.Info &#8211; Siwak adalah nama untuk dahan atau akar pohon yang digunakan untuk bersiwak. Oleh karena itu semua dahan atau akar pohon apa saja boleh kita gunakan untuk bersiwak jika memenuhi persyaratannya, yaitu lembut, sehingga batang atau akar kayu yang keras tidak boleh digunakan untuk bersiwak karena bisa merusak gusi dan email gigi; bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=31&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--StartFragment --> </p>
<p align="justify"><span class="datasimp"><a target="_blank" href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span>Siwak adalah nama untuk dahan atau akar pohon yang digunakan untuk bersiwak. Oleh karena itu semua dahan atau akar pohon apa saja boleh kita gunakan untuk bersiwak jika memenuhi persyaratannya, yaitu<span> lembut, sehingga batang atau akar kayu yang keras tidak boleh digunakan untuk bersiwak karena bisa merusak gusi dan email gigi; b</span><span>isa membersihkan dan berserat serta bersifat basah, sehingga akar atau batang yang tidak ada seratnya tidak bisa digunakan untuk bersiwak; s</span><span>eratnya tersebut tidak berjatuhan ketika digunakan untuk bersiwak sehingga bisa mengotori mulut. (syarhul mumti’ 1/118)<span id="more-31"></span></span></p>
<p align="justify">Sebagian ulama berpendapat tidaklah dikatakan bersiwak dengan sikat gigi adalah sunnah Nabi <em>Shallallâhu &#8216;alaihi wasallam</em>, karena siwak berbeda dengan sikat gigi. Siwak memiliki banyak kelebihan dibandingkan sikat gigi. Namun pendapat yang benar bahwasanya jika tidak terdapat akar atau dahan pohon untuk bersiwak maka boleh kita bersiwak dengan menggunakan sikat gigi biasa karena <em>illah</em> (sebab) disyariatkannya siwak adalah untuk membersihkan gigi. Bahkan Nabi <em>Shallallâhu &#8216;alaihi wasallam</em> pernah besiwak dengan jarinya ketika berwudhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali bahwasanya Nabi <em>Shallallâhu &#8216;alaihi wasallam</em>, yang artinya: <em>”Beliau memasukkan jarinya (ke dalam mulutnya-pent) ketika berwudlu dan menggerak-gerakkannya</em>”  (Hr: Ahmad dalam musnadnya 1/158. Berkata Al-Hafizh dalam talkhis 1/70 setelah beliau membawakan hadits-hadits tentang siwak dengan jari yaitu dari hadits Anas dan Aisyah dan selain keduanya: ”Dan hadits yang paling shohih tentang siwak dengan jari adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Ali bin Abi Tolib”.) (Syarhul mumti’ 1/118-119)</p>
<p>Dan bersiwak dengan menggunakan akar atau dahan pohon adalah lebih baik dan lebih mengikuti sunnah Nabi <em>Shallallâhu &#8216;alaihi wasallam</em> karena memiliki faedah yang banyak dan bisa digunakan setiap saat serta bisa dibawa kemana-mana. Namun anehnya banyak kaum muslimin yang merasa tidak senang jika melihat orang yang bersiwak dengan akar atau dahan pohon, padahal tidak diragukan lagi akan kesunnahannya. Mereka memandang orang yang bersiwak dengan akar kayu dengan pandangan sinis atau pandangan mengejek. Apakah mereka membenci sunnah yang sering dilakukan dan dicintai oleh Nabi <em>Shallallâhu &#8216;alaihi wasallam</em> bahkan ketika akhir hayat beliau? Tidak cukup hanya dengan membenci, merekapun memberikan olok-olokan yang tidak layak sampai-sampai mereka mengatakan orang yang bersiwak adalah orang yang jorok.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Syarhul Mumti’ ‘ala zadil mustaqni’ jilid 1, karya Syaikh Muhammad Utsaimin)</p>
<p align="justify"><!--StartFragment --> <a href="http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=494" class="blogsection">Sekilas Tentang Siwak</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=31&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/23/sekilas-tentang-siwak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Berdo&#8217;a Pada Hari Jum&#8217;at</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/keutamaan-berdoa-pada-hari-jumat/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/keutamaan-berdoa-pada-hari-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 21:40:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/keutamaan-berdoa-pada-hari-jumat/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam sepekan. Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala telah mengkhususkan untuk kaum muslimin yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya sebagai karunia dan pemuliaan terhadap ummat ini. Pada hari tersebut terdapat ibadah-ibadah yang khusus (yang paling agung adalah Shalat Jum’at). Di bawah ini akan disampaikan dalil-dalil yang menyebutkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=30&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=492&amp;Itemid=13" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span>Hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam sepekan. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>telah mengkhususkan untuk kaum muslimin yang belum pernah diberikan kepada ummat-ummat sebelumnya sebagai karunia dan pemuliaan terhadap ummat ini. Pada hari tersebut terdapat ibadah-ibadah yang khusus (yang paling agung adalah Shalat Jum’at). Di bawah ini akan disampaikan dalil-dalil yang menyebutkan keutamaannya dan sunnah-sunnah serta kewajiban yang diperintahkan dalam rangka memuliakan hari Jum’at.<span id="more-30"></span></p>
<p style="margin:0;" class="MsoNormal" align="justify">Diriwayatkan dari Abu Hurairah <em>radliyallaahu ‘anhu</em> bahwa Rasululloh<em> shalAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan, yang artinya: <em>“Sebaik-baik hari yang terbit padanya matahari adalah hari Jum’at. Pada hari itu diciptakan Adam ‘alaihissalam, dimasukkan dan dikeluarkan dari surga pada hari itu dan kiamat akan terjadi pada hari Jum’at pula.”</em> (HR: Muslim, Abu Dawud, Annasa’i, Tirmidzi dan dishahihkannya. Lihat Fiqhussunnah oleh Sayyid Sabiq bab Jum’ah).</p>
<p>Sebagaimana telah disebutkan di muka bahwa ibadah khusus yang mulia pada hari Jum’at adalah shalat Jum’at. Barangsiapa yang meninggalkannya tanpa ada alasan syar’i akan mendapatkan dosa besar adan akan diadzab dengan adzab yang pedih. Rasululloh <em>shalAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengatakan tentang suatu kaum yang meninggalkan shalat Jum’at, yang artinya:<em> “Sungguh aku berkeinginan untuk memerintahakan seorang laki-laki shalat bersama dengan manusia kemudian aku membakar rumah-rumah mereka yang tidak melakukan shalat Jum’at.”</em> (HR: Muslim, Ad Darimi dan Al Baihaqi).</p>
<p>Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Abdurrahman bin Zahrah, aku mendengar pamanku berkata, Rasululloh <em>shalAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>“Barangsiapa mendengan panggilan adzan pada hari Jum’at dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, kemudian mendengar dan tidak mendatanginya, maka Alloh akan menutup hatinya dan menjadikan hatinya seperti hati orang munafik.”</em> (HR: Al Baihaqi, Abu Ya’la, dishahihkan oleh Ibnu Hajar dan Ibnu Mundzir, hadits ini dihasankan oleh Masyhur Hasan Salman dalam Al Qulul Mubin fii Akhtha’il Mushollin).</p>
<p><strong>Berikut ini beberapa hal yang disunnahkan berkenaan dengan keutamaan hari Jum’at:</strong></p>
<ol>
<li>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="justify">Disunnnahkan berdo’a karena berdo’a pada hari itu akan dikabulkan terutama pada waktu / saat mustajab (mudahj terkabul do’a). Hal ini terdapat hadits bersumber dari Jabir bin Abdillah. Dari Jabir bin Abdillah dari Rasululloh <em>shalAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwasanya beliau berkata, yang artinya: <em>“Pada hari Jum’at ada dua belas waktu. Tidak ditemukan seorang muslim yang sedang memohon sesuatu kepada Alloh ‘Azza wa jalla kecuali pasti Dia memberinya. Maka carilah waktu itu, yaitu akhir waktu setelah ‘Ashr.”</em> (HR: Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud, hadits 926 hal. 196)</p>
<p>Do’a yang paling disukai oleh Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam adalah meminta kebaikan di dunia dan akhirat dan meminta perlindungan dari neraka. Dalam suatu hadits disebutkan, yang artinya:<em> “Barangsiapa yang meminta dimasukkan ke dalam surga, maka surga mengatakan: “Ya, Alloh, masukkan dia ke dalam surga”. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan dari api neraka kepada Alloh subhanahu wata’ala, maka neraka akan berkata: “Ya Alloh, lindungilah dia dari neraka.” </em>(HR: Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 6151/, lihat Shifatun Naar fil Kitab was Sunnah oleh Mahmud bin Khalifah Al Jasim).</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="justify">Disunnahkan memperbanyak bacaan shalawat Nabi. Aus bin Aus radliyAllohu ‘anhu berkata bahwa Rasululloh <em>shallAllohu alaihi wasallam </em>pernah bersabda, yang artinya: <em>“Seutama-utama hari adalah hari Jum’at. Padanya diciptakan dan dimatikannya Adam ‘alaihissalam, ditiup sangkakala dan dibinasakannya manusia. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat atasku pada hari itu karena shalawatmu akan sampai kepadaku.” Para sahabat bertanya: ”Bagaimana bisa sampai kepadamu sedangkan jasadmu telah dimakan tanah?” Rasululloh berkata: ”Alloh subhanahu wa ta’ala mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi.”</em> (HR: Abu Dawud, Shahih, Lihat Shahih Sunan Abu Dawud hal. 196 hadits no. 925 oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani)</li>
<li>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;" align="justify">Disunnahkan membaca Surat Al Kahfi pada siang atau malam harinya (Lihat Al Adzkar oleh Imam AnNawawi). Seorang muslim yang menghafal sepuluh atau tiga ayat pertama dari surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Juga barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dan sepuluh ayat dari Surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal. Dalilnya adalah hadits dari Abu Darda’ <em>radliyAllohu ‘anhu</em> dari Nabi<em> shallAllohu alaihi wasallam </em>berkata, yang artinya:<em> “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al Kahfi terjaga dari fitnah Dajjal.” </em>(HR: Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Tirmidzi). Pada lafadz Tirmidzi, yang artinya: <em>“Barangsiapa menghafal tiga surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal .”  </em>Dia berkata: “Hadits Hasan”.</p>
<p>Pada hadits yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dari Abu Darda’ <em>radliyAllohu ‘anhu</em> bahwa Nabi <em>shalAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> berkata: <em>“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal”. </em>Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Muslim dari Nasa’i dari Qatadah <em>radliyAllohu ‘anhu</em>. Dan pada lafadz Nasa’i menyatakan, yang artinya: <em>“Barangsiapa membaca sepuluh ayat (mana saja) dari surat Al Kahfi akan terjaga dari fitnah Dajjal.”</p>
<p></em>Pada hadits yang marfu’ (sanadnya bersambung sampai Rasululloh, ed.) dari Ali bin Abi Thalib, yang artinya: <em>“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at maka ia akan dijaga dari setiap fitnah sampai delapan hari walaupun Dajjal keluar ia akan tetap terjaga dari fitnahnya&#8221;.</em> (Lihat tafsir Ibnu Katsir Surat Al Kahfi).</p>
<p>Disunnahkan pula membaca surat <em>Alif Laam Miim tanziil</em> &#8211; assajdah dan <em>Hal ata ‘alal insan</em> pada shalat fajar (shubuh). Abu Hurairah <em>radhiAllohu &#8216;anhu</em> mengatakan, yang artinya: <em>Rasululloh shallAllohu alaihi wasallam membaca surat Alif Laam Miim tanziil assajdah dan Hal ata ‘alal insan pada shalat subuh hari Jum’at.</em> (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Menurut Thabrani dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi terus-menerus membaca kedua surat tersebut. Menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan Abi Hurairah<em> radliyAllohu’anhum</em> berkata bahwa Rasululloh <em>shalAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> membaca Surat Al Jum’ah dan Munafiqun pada hari Jum’at. (HR: Muslim).</p>
<p>Demikian pula Nabi membaca surat Sabbihisma dan Al Ghasyiah pada shalat Jum’at. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir surat Al-A’la dan Al Ghasyiah). <em>Allohu Ta’ala A’lam.</em></li>
</ol>
<p align="justify">(Sumber Rujukan: Al Adzkar, Imam Nawawi tahqiq Abdul Qadir Al Arnauth; Fiqhussunnah, Sayyid Sabiq; Fathul Baari, Ibnu Hajar Al Asqalani; Tamaamul Minnah, Muhammad Nashiruddin Al Albani;  Ikhtishar Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi; Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir; Taisiirul ‘Alllaam Syarhu ‘Umdatul Ahkam, Abdullah bin Abdirrahman bin Shalih Al Bassam; Subulussalam, Imam Ash-Shan’ani; Bulughul Maraam min Adillatil Ahkam, Ibnu Hajar Al Asqalani; Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah; Al Qaulul Mubin fii Akhtha’il Mushallin, Masyhur Hasan Salman; Shifatun Naar fil Kitab was Sunnah, Mahmud bin Khalifah Al Jasim; Shahih Sunan Abi Dawud, Muhammad Nashiruddin Al Albani)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=30&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/keutamaan-berdoa-pada-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hukum Membaca Al-Qur&#8217;an secara Bersama-sama</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/hukum-membaca-al-quran-secara-bersama-sama/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/hukum-membaca-al-quran-secara-bersama-sama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 20:37:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/hukum-membaca-al-quran-secara-bersama-sama/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi manusia, obat bagi kaum mukminin, membimbing kepada yang lebih lurus, menjelaskan jalan petunjuk. Namun demikian, saat ini banyak menusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat tertentu saja, seperti: di antara mereka ada yang hanya membacanya pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=29&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>menurunkan kitab-Nya yang mulia sebagai petunjuk bagi manusia, obat bagi kaum mukminin, membimbing kepada yang lebih lurus, menjelaskan jalan petunjuk. Namun demikian, saat ini banyak menusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat tertentu saja, seperti: di antara mereka ada yang hanya membacanya pada saat bulan Ramadhanataupun yang hanya mengenalnya saat ada kematian, dan sejenisnya.<span id="more-29"></span></p>
<p align="justify">Kemudian telah berkembang pula perbuatan-perbuatan yang tidak ada tuntunannya dalam Syariat Islam ketika membaca Al-Qur&#8217;an, di antaranya: membaca bersama-sama denga satu suara dalam masjid atau di rumah, menuliskan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an di atas kertas kemudian dimasukan ke dalam air untuk diminum, membaca Al-Qur&#8217;an di atas kuburan dll.</p>
<p>Pada dasarnya membaca Al-Qur&#8217;an haruslah dengan tatacara sebagaimana Rasulullah <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> mencontohkannya bersama para shahabat beliau <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Tidak ada satupun riwayat dari beliau dan para sahabatnya bahwa mereka membacanya dengan cara bersama-sama dengan satu suara. Akan tetapi mereka membacanya sendiri-sendiri atau salah seorang membaca dan orang lain yang hadir mendengarkannya.</p>
<p>Telah diriwayatkan bahwa Rasulullah ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam bersabda yang artinya: <em>&#8220;Hendaklah kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunnah para Al-Khulafa&#8217;ur Rasyidun setelahku&#8221;</em> [1]</p>
<p><span>Sabda beliau lainnya, yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa mengada-adakan dalam perkara kami ini (perkara agama) yang tidak berasal darinya, maka dia itu tertolak&#8221; </em>[2]</p>
<p></span><span>Dalam riwayat lain disebutkan, yang artinya:<em> &#8220;Barangsiapa melaksanakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami maka amalan tersebut tertolak&#8221;</em> [3]</p>
<p></span><span>Diriwayatkan pula dari Nabi <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwa beliau memerintahkan kepada Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>RadhiyAllohu &#8216;anhu</em> untuk membacakan kepadanya Al-Qur&#8217;an. </span>Ia berkata kepada beliau. &#8220;Wahai Rasululloh <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em>, apakah aku akan membacakan Al-Qur&#8217;an di hadapanmu sedangkan Al-Qur&#8217;an ini diturunkan kepadamu?&#8221; Beliau <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam </em>menjawab, yang artinya:<em> &#8220;Saya senang mendengarkannya dari orang lain&#8221; </em>[4]</p>
<p><strong>BERKUMPUL DI MASJID ATAU DI RUMAH UNTUK MEMBACA AL-QUR&#8217;AN BERSAMA-SAMA.<br />
</strong>Jika yang dimaksud adalah bahwasanya mereka membacanya dengan satu suara dengan &#8216;waqaf&#8217; dan berhenti yang sama, maka ini tidak disyariatkan. Paling tidak hukumnya makruh, karena tidak ada riwayat dari Rasululloh <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> maupun para shahabat beliau <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em>. Namun apabila bertujuan untuk kegiatan belajar dan mengajar, maka  kita berharap hal tersebut tidak apa-apa.</p>
<p>Adapun apabila yang dimaksudkan adalah mereka berkumpul untuk membaca Al-Qur&#8217;an dengan tujuan untuk menghafalnya, atau mempelajarinya, dan salah seorang membaca dan yang lainnya mendengarkannya, atau mereka masing-masing membaca sendiri-sendiri dengan tidak menyamai suara orang lain, maka ini disyari&#8217;atkan, berdasarkan riwayat dari Nabi <em>ShallAllohu &#8216;alaihi wa sallam</em> bahwasanya beliau bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh (masjid) sambil membaca Al-Qur&#8217;an dan saling bertadarus bersama-sama, niscaya akan turun ketenangan atas mereka, rahmat Alloh akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka dan Alloh menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya&#8221;</em> [5]</p>
<p><span><strong>MEMBAGI BACAAN AL-QUR&#8217;AN UNTUK ORANG-ORANG YANG HADIR</strong></span></p>
<p align="justify"><span>Membagi juz-juz Al-Qur&#8217;an untuk orang-orang yang hadir dalam perkumpulan, agar masing-masing membacanya sendiri-sendiri satu hizb atau beberapa hizb dari Al-Qur&#8217;an, tidaklah dianggap secara otomatis sebagai mengkhatamkan Al-Qur&#8217;an bagi masing-masing yang membacanya. Adapun tujuan mereka dalam membaca Al-Qur&#8217;an untuk mendapatkan berkahnya saja, tidaklah cukup. Sebab Al-Qur&#8217;an itu dibaca hendaknya dengan tujuan ibadah mendekatkan diri kepada Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>dan untuk menghafalnya, memikirkan dan mempelajari hukum-hukumnya, mengambil pelajaran darinya, untuk mendapatkan pahala dari membacanya, melatih lisan dalam membacanya dan berbagai macam faedah-faedah lainnya.[6]</p>
<p><em>Catatan Kaki:<br />
</em></span><span><strong>[1] </strong>Diriwayatkan oleh Abu Daud no 407 dalam kitab Sunnah, bab Fii Luzuumis Sunnah ; Ibnu Majah no 42 dalam Al-Muqaddimah, bab Ittiba&#8217;ul Khulafa&#8217;ir Rasyidinal Mahdiyyin, dari hadits Al-Irbadh RadhiyAllohu anhu. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2676 dalam Al-Ilmu bab &#8216;Maa Jaa&#8217;al Fil Akhdzi bis Sunnati Wajtinabil Bida&#8217;, ia mengatakan: &#8216;Hadits ini hasan shahih. Al-Arna&#8217;uth berkata: &#8216;Sanadnya hasan. Lihat Syarhus Sunnah, 1/205 hadits no.102.<br />
<strong>[2]</strong> Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no, 2697 dalam Al-Shulh bab &#8216;Idza Isththalahu &#8216;ala Shulhin Juur Fash Shulh Mardud&#8217; dan Muslim no 1718 dalam kitab Al-Uqdhiyah bab &#8216;Naqdhul Ahkamil Bathilan wa Raddu Muhdatsatil Umur&#8217; dari hadits Aisyah <em>RadhiyAllohu &#8216;anha.</em><br />
</span><span><strong>[3]</strong> Diriwayatkan oleh Muslim no. 1718 jilid 18, dalam kitab Al-Uqdhiyah bab Maqdhul Ahkamil Bathilan wa Raddu Muhdatsatil Umu&#8217; dari hadits Aisyah <em>RadhiyAllohu &#8216;anha.</em><br />
<strong>[4] </strong>Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5050, dalam Fadhailul Qur&#8217;an, bab &#8216;Barangsiapa mendengarkan Al-Qur&#8217;an dari orang selainnya&#8217; dari hadits Abdullah bin Mas&#8217;ud, ia berkata, &#8216;Rasululloh berkata kepada saya, bacakan Al-Qur&#8217;an untukku. Saya berkata, Wahai Rasululloh, apakah saya akan membacakannya sedangkan Al-Qur&#8217;an ini diturunkan kepadamu? Beliau menjawab, &#8216;Ya&#8217; Maka sayapun membacakan surat An-Nisa hingga pada ayat, yang artinya: <em>&#8220;Maka bagaimanakah (halnya orang-orang kafir nanti), apabila kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu)&#8221;. </em>(QS: An-Nisa: 41)<em>. Beliau berkata, &#8220;Cukup&#8221;. Saya menoleh kepada beliau, ternyata kedua matanya sedang berlinang air mata.&#8221; </em>[Lihat Fatwa Lajnah Da'imah no. 4394]<br />
<strong>[5]</strong> Bagian dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 2699 dalam kitab Dzikir dan Do&#8217;a, bab &#8216;Fadhlul Ijtima &#8216;Ala Tilawatil Qur&#8217;an wa &#8216;Aladz Dzikir dari hadits Abu Hurairah <em>RadhiyAllohu &#8216;anhu</em>.[Lihat juga Fatawa Lajnah Da'imah no. 3302]<br />
<strong>[6] </strong>Lihat Fatwa Lajnah Da&#8217;imah no. 3861</p>
<p></span><span>(Sumber Rujukan: Penyimpangan Terhadap Al-Qur&#8217;an; </span>Fatwa Lajnah Da&#8217;imah)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=29&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/hukum-membaca-al-quran-secara-bersama-sama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tidak Cebok Setelah Buang Air Kecil</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/tidak-cebok-setelah-buang-air-kecil/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/tidak-cebok-setelah-buang-air-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 19:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/tidak-cebok-setelah-buang-air-kecil/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Saat ini, banyak umat Islam yang menyerupai orang-orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing, dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakaiannya dan mengenakannya dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=28&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="datasimp"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Saat ini, banyak umat Islam yang menyerupai orang-orang kafir dalam masalah kencing. Beberapa kamar kecil hanya dilengkapi dengan bejana air kencing permanen yang menempel di tembok dalam ruangan terbuka. Setiap yang kencing, dengan tanpa malu berdiri dengan disaksikan orang yang lalu lalang keluar kamar mandi. Selesai kencing ia mengangkat pakaiannya dan mengenakannya dalam keadaan najis.</span></span><span id="more-28"></span></p>
<p align="justify">Orang tersebut telah melakukan dua perkara yang diharamkan, pertama ia tidak menjaga auratnya dari penglihatan manusia dan kedua, ia tidak cebok dan membersihkan diri dari kencingnya.</p>
<p>Islam datang dengan membawa peraturan yang semuanya demi kemaslahatan umat manusia. Diantaranya soal menghilangkan najis, Islam mensyari&#8217;atkan agar umatnya melakukan <em>istinja&#8217;</em> (cebok dengan air) dan <em>istijmar</em> (membersihkan kotoran dengan batu), lalu menerangkan cara melakukannya sehingga tercapai kebersihan yang dimaksud.</p>
<p>Sebagian orang menganggap enteng masalah menghilangkan najis. Akibatnya badan dan bajunya masih kotor. Dengan begitu, shalatnya menjadi tidak sah. Rasululloh <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam </em>mengabarkan bahwa perbuatan tersebut salah satu sebab dari azab kubur.</p>
<p>Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu &#8216;anhu</em> berkata: &#8220;Suatu kali Rasululloh <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> melewati salah satu kebun di Madinah. Tiba-tiba beliau mendengar suara dua orang yang sedang di siksa di alam kuburnya. Lalu Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Keduanya diazab, tetapi tidak karena masalah besar (dalam anggapan keduanya) lalu bersabda &#8211; benar (dlm riwayat lain: Sesungguhnya ia masalah besar) salah satunya tidak meletakkan sesuatu untuk melindungi diri dari percikan kencingnya dan yang satu lagi suka mengadu domba&#8221;.</em> (HR: Bukhari, lihat Fathul Baari :1/317)</p>
<p>Bahkan Nabi <em>Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam</em> mengabarkan, yang artinya: <em>&#8220;Kebanyakan azab kubur disebabkan oleh buang air kecil&#8221;. </em>(HR: Ahmad, Shahihul Jami&#8217; No. 1213)</p>
<p>Termasuk tidak cebok setelah buang air kecil adalah orang yang menyudahi hajatnya dengan tergesa-gesa sebelum kencingnya habis, atau sengaja kencing dengan posisi tertentu atau di suatu tempat yang menjadikan percikan air kencing itu mengenainya, atau sengaja meninggalkan istinja&#8217; dan istijmar tidak teliti dalam melakukannya.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Dosa-dosa Yang Dianggap Biasa oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=28&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/tidak-cebok-setelah-buang-air-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jual Beli Yang Terlarang</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/jual-beli-yang-terlarang/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/jual-beli-yang-terlarang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 12:08:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/jual-beli-yang-terlarang/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Perdagangan ataupun kegiatan yang berkaitan dengan jual beli lainnya seperti memproduksi suatu barang kebutuhan umat manusia, menerima jasa dan sebagainya bukanlah sebuah perbuatan yang dilarang oleh Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat. Seperti melalaikannya dari ibadah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=27&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><span class="datasimp"><a href="http://www.mediamuslim.info/" target="_blank">MediaMuslim.Info</a> &#8211; </span>Perdagangan ataupun kegiatan yang berkaitan dengan jual beli lainnya seperti memproduksi suatu barang kebutuhan umat manusia, menerima jasa dan sebagainya bukanlah sebuah perbuatan yang dilarang oleh Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>membolehkan jual beli bagi hamba-Nya selama tidak melalaikan dari perkara yang lebih penting dan bermanfaat. Seperti melalaikannya dari ibadah yang wajib atau membuat madharat terhadap kewajiban lainnya. Dan juga selama segala sesuatu yang di perjual-belikan itu bukanlah sesuatu yang bertentangan atau dilarang oleh Syariat Islam.<span id="more-27"></span></p>
<p align="justify"><strong>Jual Beli Ketika Panggilan Adzan<br />
</strong><br />
Jual beli tidak sah dilakukan bila telah masuk kewajiban untuk melakukan shalat Jum&#8217;at. Yaitu setelah terdengar panggilan adzan yang kedua, berdasarkan Firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum&#8217;at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.&#8221;</em> (QS: Al Jumu&#8217;ah: 9).</p>
<p>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> melarang jual beli agar tidak menjadikannya sebagai kesibukan yang menghalanginya untuk melakukan Shalat Jum’at. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> mengkhususkan melarang jual beli karena ini adalah perkara terpenting yang (sering) menyebabkan kesibukan seseorang. Larangan ini menunjukan makna pengharaman dan tidak sahnya jual beli. Kemudian Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>mengatakan &#8220;yang demikian itu&#8221;, yakni &#8220;perkara meninggalkan jual beli dan menghadiri Shalat Jum&#8217;at adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui akan maslahatnya&#8221;. Maka, melakukan kesibukan dengan perkara selain jual beli sehingga mengabaikan shalat Jum&#8217;at adalah juga perkara yang diharamkan.</p>
<p>Demikian juga shalat fardhu lainnya, tidak boleh disibukkan dengan aktivitas jual beli ataupun yang lainnya setelah ada panggilan untuk menghadirinya. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala </em>berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Bertasbih kepada Alloh di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang. laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Alloh, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Alloh memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Alloh menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Alloh memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.&#8221; </em>(QS: An-Nur: 36-38).</p>
<p><strong>Jual Beli Untuk Kejahatan<br />
</strong><br />
Demikian juga Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> melarang kita menjual sesuatu yang dapat membantu terwujudnya kemaksiatan dan dipergunakan kepada yang diharamkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>. Karena itu, tidak boleh menjual sirup yang dijadikan untuk membuat khamer karena hal tersebut akan membantu terwujudnya permusuhan. Hal ini berdasarkan firman Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya:<em> &#8220;Janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatuan dosa dan permusuhan&#8221; </em>(AL Maidah: 2)</p>
<p>Demikian juga tidak boleh menjual persenjataan serta peralatan perang lainnya di waktu terjadi fitnah (peperangan) antar kaum muslimin supaya tidak menjadi penyebab adanya pembunuhan. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> dan Rasul-Nya telah melarang dari yang demikian.</p>
<p>Ibnul Qoyim berkata &#8220;Telah jelas dari dalil-dalil syara&#8217; bahwa maksud dari akad jual beli akan menentukan sah atau rusaknya akad tersebut. Maka persenjataan yang dijual seseorang akan bernilai haram atau batil manakala diketahui maksud pembeliaan tersebut adalah untuk membunuh seorang Muslim. Karena hal tesebut berarti telah membantu terwujudnya dosa dan permusuhan. Apabila menjualnya kepada orang yang dikenal bahwa dia adalah Mujahid fi sabilillah maka ini adalah ketaТatan dan qurbah. Demikian pula bagi yang menjualnya untuk memerangi kaum muslimin atau memutuskan jalan perjuangan kaum muslimin maka dia telah tolong menolong untuk kemaksiatan.&#8221;</p>
<p><strong>Menjual Budak Muslim kepada Non Muslim</strong></p>
<p>Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> melarang menjual hamba sahaya muslim kepada seorang kafir jika dia tidak membebaskannya. Karena hal tersebut akan menjadikan budak tersebut hina dan rendah di hadapan orang kafir. Alloh <em>Subhanahu wa Ta&#8217;ala</em> telah berfirman, yang artinya:  <em>&#8220;Alloh sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.&#8221; </em>(QS: An-Nisa&#8217;: 141).</p>
<p>Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Islam itu tinggi dan tidak akan pernah ditinggikan atasnya&#8221;</em> (shahih dalam Al Irwa&#8217;: 1268, Shahih Al Jami&#8217;: 2778)</p>
<p><strong>Jual Beli di atas Jual Beli Saudaranya</strong></p>
<p>Diharamkan menjual barang di atas penjualan saudaranya, seperti seseorang berkata kepada orang yang hendak membeli barang seharga sepuluh, Aku akan memberimu barang yang seperti itu dengan harga sembila.. Atau perkataan Aku akan memberimu lebih baik dari itu dengan harga yang lebih baik pula. Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda, yang artinya:<em> &#8220;Tidaklah sebagian diatara kalian diperkenankan untuk menjual (barang) atas (penjualan) sebagian lainnya.&#8221; </em>(Mutafaq alaihi).</p>
<p>Juga sabdanya, yang artinya:<em> &#8220;Tidaklah seorang menjual di atas jualan saudaranya&#8221; </em>(Mutfaq Сalaih)Demikian juga diharamkan membeli barang di atas pembelian saudaranya. Seperti mengatakan terhadap orang yang menjual  dengan harga sembilan: Saya beli dengan harga sepuluh. Pada zaman ini betapa banyak contoh-contoh muamalah yang diharamkan seperti ini terjadi di pasar-pasar kaum muslimin. Maka wajib bagi kita untuk menjauhinya dan melarang manusia dari pebuatan seperti tersebut serta mengingkari segenap pelakunya.</p>
<p><strong>Samsaran</strong></p>
<p align="justify">Termasuk jual beli yang diharamkan adalah jual belinya orang yang bertindak sebagai samsaran, (yaitu seorang penduduk kota menghadang orang yang datang dari tempat lain (luar kota), kemudian orang itu meminta kepadanya untuk menjadi perantara dalam jual belinya, begitupun sebaliknya). Hal ini berdasarkan sabda Nabi<em> shalallahu &#8216;alaihi wasallam, </em>yang artinya: <em>&#8220;Tidak boleh seorang yang hadir (tinggal di kota) menjualkan barang terhadap orang yang baadi (orang kampung lain yang datang ke kota)&#8221;.</em></p>
<p>Ibnu Abbas <em>Radhiallahu anhu</em> berkata: Tidak boleh menjadi Samsar baginya (yaitu penunjuk jalan yang jadi perantara penjual dan pemberi). Nabi <em>Shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Biarkanlah manusia berusaha sebagian mereka terhadap sebagian yang lain untuk mendapatkan rizki Alloh&#8221;</em> (HR: Shahih Tirmidzi, 977, Shahih Al Jami&#8217; 8603)</p>
<p>Begitu pula tidak boleh bagi orang yang mukim untuk untuk membelikan barang bagi seorang pendatang. Seperti seorang penduduk kota (mukim) pergi menemui penduduk kampung (pendatang) dan berkata Saya akan membelikan barang untukmu atau menjualkan. Kecuali bila pendatang itu meminta kepada penduduk kota (yang mukim) untuk membelikan atau menjualkan barang miliknya, maka ini tidak dilarang.</p>
<p><strong>Jual Beli dengan Сinah</strong></p>
<p align="justify">Diantara jual beli yang juga terlarang adalah jual beli dengan cara Сinah, yaitu menjual sebuah barang kepada seseorang dengan harga kredit, kemudian dia membelinya lagi dengan harga kontan akan tetapi lebih rendah dari harga kredit. Misalnya, seseorang menjual barang seharga Rp 20.000 dengan cara kredit. Kemudian (setelah dijual) dia membelinya lagi dengan harga Rp 15.000 kontan. Adapun harga Rp 20.000 tetap dalam hitungan hutang si pembeli sampai batas waktu yang ditentukan. Maka ini adalah perbuatan yang diharamkan karena termasuk bentuk tipu daya yang bisa mengantarkan kepada riba. Seolah-olah dia menjual dirham-dirham yang dikreditkan dengan dirham-dirham yang kontan bersamaan dengan adanya perbedaan (selisih). Sedangkan harga barang itu hanya sekedar tipu daya saja (hilah), padahal intinya adalah riba.</p>
<p>Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasallam</em> bersabda, yang artinya:<em> &#8220;Jika kalian telah berjual beli dengan cara Сinah dan telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (sibuk denngan bercocok tanam), sehingga kalian meninggalkan jihad, maka Alloh akan timpakan kepada kalian kehinaan, dan (Dia) tidak akan mengangkat kehinaan dari kalian, sampai kalian kembali kepada agama kalian&#8221;</em> (HR: Silsilah As Shahihah: 11, Shahih Abu Dawud: 2956) dan juga sabdanya, yang artinya: <em>&#8220;Akan datang pada manusia suatu masa yang mereka menghalalkan riba dengan jual beli&#8221;</em> (Hadits Dha’if, dilemahkan oleh Al Albany dalam Ghayatul Maram: 13).<br />
<em><br />
</em>(Sumber Rujukan: Mulakhos Fiqhy Juz II Hal 11-13, dengan beberapa tambahan)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=27&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/jual-beli-yang-terlarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sholat Khusyu&#8217; &#8211; Mungkinkah Sekedar Impian ?</title>
		<link>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/sholat-khusyu-mungkinkah-sekedar-impian/</link>
		<comments>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/sholat-khusyu-mungkinkah-sekedar-impian/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 10:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>serbaspecial</dc:creator>
				<category><![CDATA[4 Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Amalan]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Dasar Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fikih Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[FiqhIslam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islamic Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hambali]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Hanafi]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Maliki]]></category>
		<category><![CDATA[Mazhab Syafei]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tuntunan Ibadah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/sholat-khusyu-mungkinkah-sekedar-impian/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Secara etimologi (bahasa), al-khusyu&#8217; memiliki makna al-khudhû&#8217; (tunduk). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu&#8217;kan matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara terminologi (istilah syar&#8217;i) al-khusyu&#8217; adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan kehadiran Alloh Subhannahu wa Ta&#8217;ala yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=26&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211; Secara etimologi (bahasa), <em>al-khusyu&#8217;</em> memiliki makna al-khudhû&#8217; (tunduk). Seseorang dikatakan telah mengkhusyu&#8217;kan matanya jika dia telah menundukkan pandangan matanya. Secara terminologi (istilah syar&#8217;i) <em>al-khusyu&#8217;</em> adalah seseorang melaksanakan shalat dan merasakan kehadiran Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em> yang amat dekat kepadanya, sehingga hati dan jiwanya merasa tenang dan tentram, tidak melakukan gerakan sia-sia dan tidak menoleh. <span>Dia betul-betul menjaga adab dan sopan santun di hadapan Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>. Segala gerakan dan ucapannya dia konsentrasikan mulai dari awal shalat hingga shalatnya berakhir.</span><span id="more-26"></span></p>
<p align="justify">Berikut firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em> tentang sholat yang khusyu&#8217;, yang artinya: <em>&#8220;Yaitu orang-orang yang khusyu&#8217; didalam sholatnya&#8221;</em> (QS: Al-Mu&#8217;minun:2). Ayat tersebut ditafsirkan oleh Ibnu Abbâs <em>Radhiallaahu anhu</em> bahwa: &#8220;Orang-orang yang khusyu&#8217; adalah orang-orang yang takut lagi penuh ketenangan&#8221;. Dan Ali Bin Abi Thalib berkata bahwa &#8221;Yang dimaksud dengan khusyu&#8217; dalam ayat ini adalah kekhusyu&#8217;an hati&#8221;.</p>
<p><strong>Kiat-kiat yang dilakukan sebelum melaksanakan shalat.<br />
</strong>Sebelum memulai ibadah shalat maka perhatikanlah kiat-kiat berikut ini:</p>
<p><strong>Menjawab seruan adzan</strong> dengan lafazh sebagaimana yang dikumandang kan oleh muadzin kecuali lafazh: <em>&#8220;hayya &#8216;alash shalah dan hayya &#8216;alal falâh&#8221;</em> maka jawabannya adalah <em>&#8220;lâ haula walâ quwwata illa billâh&#8221; </em>sebagaimana perintah Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em> dalam sabdanya, yang artinya: <em>&#8220;Apabila kalian mendengar muadzin (mengumandangkan azan) maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya&#8230;.&#8221;</em> (HR: al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya).</p>
<p>Lalu berdo&#8217;a selesai adzan dengan do&#8217;a yang diajarkan oleh Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em> seperti <em>Allahumma Rabba hadzihid da’watit taammah&#8230;</em>dst.</p>
<p>Kemudian berdo&#8217;a sesuai dengan keinginan masing-masing, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em>, yang artinya:<em> &#8221;Do&#8217;a antara adzan dan iqomah tidak tertolak&#8221; </em>(HR: Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasa&#8217;i, Ibnu Khuzaimah dan lainnya)</p>
<p><strong>Berwudhu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wasalam</em>.</strong> Melakukan wudhu berarti telah merealisasikan perintah Alloh <em>Subhanahu Wa Ta’ala,</em> yang terdapat dalam firman-Nya, yang artinya: <em>&#8220;Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sholat, maka basuhlah mukamu, basuhlah tanganmu hingga siku, dan usaplah (sapulah) kepalamu, serta basuhlah kakimu hingga kedua mata kakimu&#8230;&#8221; </em>(QS: Al-Maidah: 6)</p>
<p>Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em> bersabda tentang keutamaan wudhu, yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa yang berwudhu&#8217;, lalu berwudhu&#8217; dengan sebaik-baiknya, kemudian dia shalat, niscaya dosa antara sholatnya itu dan sholatnya yang lain (berikutnya) diampuni.&#8221; </em>(HR: Ibnu Khuzaimah dan Imam Ahmad)</p>
<p><em>Dan bahkan orang yang berwudhu` itu berarti dia telah menggugurkan dosa-dosanya bersamaan dengan air yang mengalir dari anggota wudhu` yang telah dibasuh.</em> (HR: Ibnu Khuzaimah dan Muslim)</p>
<p><strong>Bersiwak</strong> (atau menggosok gigi) sebelum shalat sebagaimana perintah Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em> dalam sebuah haditsnya, yang artinya: <em>&#8220;Seandainya tidak memberatkan ummatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu&#8217; (dalam riwayat yang lain) setiap kali hendak sholat&#8221;</em> (HR: Muttafaq &#8216;Alaih)</p>
<p><strong>Memakai pakaian yang sopan (layak), bersih dan wangi, serta menjauhi semaksimal mungkin pakaian yang sudah kotor, bau dan tidak layak untuk dipakai dalam shalat.</strong>  Menghindari pakaian yang ketat sehingga menyebabkan kesulitan untuk bergerak dan bernafas, janganlah memakai pakaian bergambar atau bertulisan agar mata kita terjaga dan juga agar orang lain tidak terganggu, lalu perhatikan juga pakaian yang membungkus tubuh kita, apakah sudah memenuhi syarat? Apakah sudah benar-benar menutupi aurat? Semua hal ini sebagai bentuk realisasi dari firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Wahai manusia pakailah pakaianmu yang indah setiap kali memasuki masjid&#8221;</em> (QS:Al-&#8217;Araf: 31)</p>
<p>Jagalah konsetrasi dalam melaksanakan shalat dengan cara menghindari tempat dan suasana yang panas atau gerah, sebagaimana larangan Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam </em>untuk tidak shalat Dzuhur pada saat panas sangat menyengat. Beliau <em>Shalallaahu alaihi wa salam </em>bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Laksanakanlah sholat Dzuhur pada waktu panas sudah mereda, karena panas yang sangat menyengat itu adalah hawa panas yang berasal dari neraka jahannam&#8221; </em>( HR: al-Bukhari, Ahmad dll).</p>
<p>Dan jagalah konsentrasi shalat kita dengan memenuhi segala kebutuhan jasmani kita yang mendesak, seperti; kalau seandainya sebelum shalat perut kita terasa mulas, ingin buang air maka janganlah ditahan-tahan, sebab kalau kita shalat sambil menahan perut kita yang mulas pasti konsetrasi shalat kita terganggu.</p>
<p>Demikian juga apabila kita merasa lapar sebelum melaksanakan shalat maka bersegeralah untuk makan untuk memenuhi hajat perut kita tersebut agar rasa lapar itu tidak membuyarkan konsetrasi kita ketika sedang shalat, dan mengenai dua permasalahan diatas Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam </em>bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Tiada sholat ketika makanan sudah terhidang dan tiada sholat ketika seseorang menahan hajat buang airnya&#8221;</em> (HR: Muslim, Ahmad dan lain-lain).</p>
<p><strong>Carilah tempat shalat yang tenang</strong>, yang jauh dari kebisingan, yang jauh dari suara-suara berisik dan suara-suara gaduh, Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Jauhilah suara-suara berisik seperti di pasar (ketika berada di masjid)&#8221; </em>(HR: Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu siapa saja yang berada di masjid hendaklah menjaga ketenangan dan ketentraman masjid, apabila kita berdzikir maka lirihkanlah suara dzikir kita, dan apabila kita membaca al-Qur&#8217;an maka lirihkanlah suara bacaan Al-Qur&#8217;an kita. Jangan sampai suara kita membuyarkan konsentrasi saudara-saudara kita yang sedang bermunajat kepada Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam </em>bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya orang yang shalat sedang bermunajat kepada Rabnya, maka perhatikanlah saudaramu yang sedang bermunajat itu, Janganlah keraskan bacaan Qur&#8217;an kalian!&#8221;</em> (HR: al-Bukhari dan Imam Malik)</p>
<p>Luangkanlah waktu untuk menunggu datangnya waktu shalat. Meluangkan waktu menunggu datang nya waktu shalat bisa dilakukan di dalam masjid terutama bagi laki-laki, sedangkan bagi wanita maka lebih utama di rumah. Alloh<em> Subhanahu Wa Ta’ala</em> akan memberikan keutamaan dan fadhilah yang sangat banyak bagi orang yang menunggu waktu shalat, Sebagaimana Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam </em>bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Senantiasa dihitung perbuatan seorang hamba itu sebagai pahala sholat selama ia menunggu datangnya waktu sholat, dan para malaikat (senantiasa) berdo&#8217;a untuknya, “Ya Alloh ampunilah dia dan rahmatilah dia,” sampai seorang hamba itu selesai (melaksanakan sholat) atau ia berhadats, (ada yang bertanya); apa yang dimaksud dengan hadats, (kata Rasululloh); keluar angin dari lubang dubur baik bau maupun tidak&#8221;</em> (HR: Muslim dan Abu Daud)</p>
<p>Dalam hadits yang lain beliau <em>Shalallaahu alaihi wa salam </em>bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Maukah aku beritahukan tentang beberapa hal, yang mana Alloh akan menjadikannya sebagai pelebur dosa dan pengangkat derajat kalian? Para shahabat menjawab, “Tentu mau ya Rasululloh,” lalu Rasululloh bersabda, yang artinya: &#8220;Sempurnakan wudhu&#8217; walau dalam keadaan tidak menyenangkan (spt; dingin), perbanyak langkah menuju masjid, menunggu sholat setelah melaksanakan sholat, maka yang demikian itu adalah ar-ribath, yang demikian itu ar-ribath.”</em> (HR: Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Muslim)</p>
<p>Ar-ribath adalah senantiasa menjaga kesucian, shalat dan ibadah maka pahalanya diumpamakan seperti jihad di jalan Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Demikianlah kiat-kiat yang perlu kita perhatikan sebelum melak sanakan shalat. Dengan merealisasikan itu semua mudah-mudahan shalat kita menjadi shalat yang khusyu’ dan diterima disisi Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>.</p>
<p><strong>Keutamaan Shalot yang Khusyu&#8217;<br />
</strong>Sesungguhnya Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em> telah memuji orang yang khusyu&#8217; pada banyak ayat dalam al-Qur&#8217;an, di antara nya adalah:</p>
<p>Firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya telah beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu&#8217; didalam sholatnya&#8221;.</em> (QS: Al-Mu&#8217;minun: 1-2)</p>
<p>Firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Dan mintalah pertolongan (kepada Alloh) dengan sabar dan sholat, karena sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu&#8217;&#8221;. </em>(QS. al-Baqarah: 45)</p>
<p>Firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em> pada ayat yang lain, yang artinya: <em>&#8220;Mereka yang berdo&#8217;a kepada Kami dengan penuh harapan dan rasa takut (cemas), dan mareka adalah orang-orang yang khusyu&#8217; kepada Kami&#8221;. </em>(QS: Al-Anbiya&#8217;: 90)</p>
<p>Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Mereka menyungkurkan mukanya dalam keadaan menangis dan kekhusyu&#8217;an mereka semakin bertambah&#8221; </em>(QS: Al-Isra&#8217;: 109)</p>
<p>Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em> berfirman, yang artinya: <em>&#8220;Dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih, Apabila dibacakan ayat-ayat Alloh Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.&#8221;</em> (QS: Maryam: 58)</p>
<p>Firman Alloh <em>Subhannahu wa Ta&#8217;ala</em>, yang artinya: <em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.&#8221;</em> (QS: Al-Mulk: 12)</p>
<p>Demikian juga beberapa hadits Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam </em>yang menjelaskan tentang keutamaan khusyu&#8217; berikut ini:</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em>, Rasululloh <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Tujuh golongan yang mendapat naungan Alloh pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Alloh; …(dan disebutkan di antaranya) seseorang yang berdzikir (ingat) kepada Allah dalam kesendirian (kesunyian) kemudian air matanya mengalir.&#8221; </em>(HR: Al-Bukhari, Muslim dan lain-lainya)</p>
<p>Nabi <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Barangsiapa yang mengingat Alloh kemudian dia menangis sehingga air matanya mengalir jatuh ke bumi niscaya dia tidak akan diazab pada hari Kiamat kelak.&#8221;</em> (HR. al-Hakim dan dia berkata sanadnya shahih)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>Radhiallaahu anhu</em>, Nabi <em>Shalallaahu alaihi wa salam</em> bersabda, yang artinya: <em>&#8220;Semua mata (manusia) pada hari Kiamat akan menangis kecuali (ada beberapa orang yang tidak menangis) (pertama) mata yang terjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah, (kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (pada malam hari) di jalan Allah, (ketiga) mata yang menangis karena takut pada Allah walau (air mata yang keluar itu) hanya sekecil kepala seekor lalat&#8221;</em> (HR: Ashbahâny)</p>
<p>Dari Bahaz Bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya semoga Alloh meridhai mereka, kakeknya berkata, <em>“Saya mendengar Rasululloh Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, &#8220;Diharamkan neraka membakar tiga golongan manusia yang disebabkan matanya, (pertama) mata yang menangis karena takut pada Allah, (kedua) mata yang dipergunakan untuk berjaga-jaga (begadang) di jalan Alloh, (ketiga) mata yang terpelihara dari hal-hal yang diharamkan Alloh.&#8221; </em>(HR: At-Thabrani, Al-Baghawi dan yang lainnya, al-Hakim mengatakan hadits ini shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi) <em>Wallahu a’lam bish shawab</em>.</p>
<p>(Sumber Rujukan: Taisîr Karimir Rahman, Asy-Syaikh Abdur Rahman Bin Nâshir As-Sa&#8217;dy; Tafsir Ibnu Katsir, <a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a>)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/serbafiqih.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/serbafiqih.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/serbafiqih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/serbafiqih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/serbafiqih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/serbafiqih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/serbafiqih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/serbafiqih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/serbafiqih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/serbafiqih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/serbafiqih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/serbafiqih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/serbafiqih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/serbafiqih.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/serbafiqih.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/serbafiqih.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=serbafiqih.wordpress.com&amp;blog=1271510&amp;post=26&amp;subd=serbafiqih&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://serbafiqih.wordpress.com/2007/06/22/sholat-khusyu-mungkinkah-sekedar-impian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ca4ea9df7a608260b0646462dc5b2f16?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">Unaiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
